REPUBLIKA.CO.ID – Disebutkan di dalam kitab Akhbar Makkah karya Al-Azraqy, Ibnu Abi Najih meriwayatkan bahwa Aisyah pernah berkata, “Seandainya saja tidak terjadi hijrah, niscaya aku bermukim di Makkah. Sungguh, aku belum pernah melihat langit begitu dekat ke bumi selain di Makkah. Dan hatiku pun belum pernah merasakan ketenteraman seperti yang aku rasakan di Makkah, dan juga belum pernah aku melihat bulan di suatu tempat seindah yang kulihat di Makkah.” (Al-Azraqy: 11/153). Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya, bahwa Nabi SAW pernah mengucapkan, “Ya Allah, cintakanlah kami kepada Madinah sebagaimana cinta kami kepada Makkah, bahkan lebih (dari itu), dan sahihkanlah dia, lalu berkahilah kami dalam sha’ dan mud-nya, dan pindahkanlah daerah larangannya ke Juhfah.” (Al-Azraqy: 11/153). Ibnu Ummi Maktum berkata seraya memegang kendali unta Rasulullah SAW, sementara beliau tengah berthawaf , “Betapa indah lembah Makkah. Di sanalah bumi dan sahabatku. Di sanalah tertancap pancangku. Dan di sana kuberjalan sendiri tanpa seorang pun menunjuki.” Daud bin Abdurrahman berkata, “Aku tidak tahu apakah beliau berthawaf di Baitullah atau di antara Shafa dan Marwa?” Ibnu Umar bin Adiy bin Abil Hamrd mendengar Rasulullah SAW bersabda, sementara beliau berada di bukit Khazwarah, “Demi Allah, sesungguhnya engkau adalah bumi yang paling baik dan paling dicintai Allah. Dan seandainya aku tidak dlusir darimu, aku pun tak akan meninggalkanmu.” (Al-Azraqy: 11/154). Abu Yunus menceritakan dari Abdurrahman bin Sabith, ketika Nabi SAW hendak berangkat ke Madinah, sementara beliau telah memegang Hajar Aswad dan berdiri di tengah-tengah masjid, beliau menengok ke arah Baitullah, lalu bersabda, “Sungguh aku tahu bahwa Allah tidak membangun sebuah rumah di bumi yang lebih dicintai-Nya daripada engkau, dan tidak ada negeri di bumi Allah yang lebih dicintai-Nya daripada engkau. Jika aku pergi, bukan karena enggan terhadap engkau melainkan karena mereka (orang-orang kafir) mengusirku.” Kemudian beliau berseru, “Wahai Bani Abdi Manaf, seorang hamba tidak berhak melarang hamba yang lain untuk mengerjakan shalat di dalam masjid ini, kapan saja dia suka, siang ataupun malam.” (Al-Azraqy: 11/155). Diceritakan dari Ibnu Syihab, bahwa Ashil Al-Ghifari datang sebelum diwajibkan hijab atas istri-istri Nabi SAW, lalu masuk menemui Aisyah RA. Aisyah bertanya kepadanya, “Wahai Ashil, bagaimana keadaan Makkah sekarang?” Dia menjawab, “Aku melihat Makkah sekarang telah subur wilayahnya dan telah putih sungainya.” Aisyah berkata, “Engkau diamlah dulu, sampai Nabi SAW datang.” Maka, setelah Nabi SAW masuk, beliau lantas bertanya, “Wahai Ashil, bagaimanakah keadaan Makkah sekarang?” Dia menjawab, “Aku melihat Makkah sekarang telah subur wilayahnya, telah putih sungainya, telah banyak idzkhir-nya, telah lebat rerumputannya, dan telah ranum salamnya (sejenis tumbuhan yang biasa dipergunakan untuk menyamak kulit).” Lalu beliau bersabda, “Cukuplah wahai Ashil, janganlah engkau membuat kami sedih.” Maksud ‘telah ranum salam-nya’ adalah daun-daun mudanya segar pada ujung-ujung dahannya. (Al-Azraqy: 11/155). Redaktur: Chairul Akhmad Reporter: Hannan Putra Sumber: Menguak Misteri Tempat-tempat Suci, Keutamaan Kota Makkah Oleh Atiq bin Ghaits Al-Biladi Sumber : http://www.jurnalhaji.com/2012/04/26/kecintaan-allah-dan-rasulnya-terhadap-makkah/">http://www.jurnalhaji.com/2012/04/26/kecintaan-allah-dan-rasulnya-terhadap-makkah/
|